Penyebaran Covid-19 di Jatim
Penyebaran Covid-19 di Jatim

Data penderita positif Covid-19 di Surabaya diketahui terus bertambah. Kini jumlah penderita Covid-19 sudah 20 orang.

Jumlah itu naik secara signifikan sejak Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengumumkannya di hari pertama Kamis (19/3) yang awalnya tujuh. Esoknya Jumat (20/3) kembali bertambah menjadi 13 dan terakhir Sabtu (21/3) menjadi 20 orang.

Jumlah penderita itu terbanyak dibanding daerah Jawa Timur lainnya. Karena total penderita Covid-19 di Jatim mencapai 26 orang, yang juga tersebar di Malang, Sidoarjo dan Magetan.

Sementara itu secara keseluruhan yang terdampak Covid-19 di Surabaya ini sudah sebanyak 143 orang. 110 orang berstatus ODP, 79 orang PDP dan 20 orang positif.

Dengan adanya fakta tersebut kemudian Surabaya ditetapkan sebagai zona merah oleh Pemprov Jatim. Bersama dengan Malang, Sidoarjo dan Magetan yang sudah terdapat kasus positif Covid-19.

Jika Gubernur Jatim Khofifah sudah menerangkan soal status merah, sebaliknya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terkesan menutupi banyaknya temuan ini.

Ditemui di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya, Sabtu (21/3/2020), Risma awalnya sempat terdiam mendapat pertanyaan awak media tentang Kota Surabaya yang masuk zona merah Covid-19.

Setelah itu, Risma langsung menjawab dengan berkelakar. "Ya, memang zona merah, karena PDI-P...," ujarnya menjawab secara guyon disaat status genting dilansir dari Kompas.com. 

PDI-P yang disebut Risma adalah partai politik pimpinan Megawati Soekarnoputri dan sudah selama sepuluh tahun terakhir memang berkuasa di Surabaya.

Risma sendiri merupakan kader PDI-P dan menjabat sebagai Ketua DPP Bidang Kebudayaan.

Usai memberi pernyataan itu, Risma tertawa sambil berkali-kali mengucapkan kata "merdeka" di hadapan awak media.

"Merdeka... Merdeka... Merdeka...tiba-tiba jawabanku gitu, hayo. Merdeka...," kata Risma. Dan Risma pun tetap bersikukuh enggan mengomentari status Surabaya yang masuk zona merah.

Pernyataan Risma itu rupanya mendapat kecaman dari politisi PKB Mahfudz. Pria yang juga anggota DPRD Surabaya ini menyebut Risma sudah tidak lagi peka dengan perasaan warga Surabaya yang sebenarnya sudah was-was.

"Di Kota Surabaya ini bukan cuma PDIP.
Masak semua musibah kemanusiaan seperti ini di buat guyonan," kecamnya.

Mahfudz juga mengkritik soal penanganan Covid-19 oleh Risma ini yang seakan dijadikan panggung politik. 

"Pantesan saat ini yg dijadikan ketua gugus menghadapi Covid-19 kepala Bapekko, karena nafsu politik tidak terkontrol. Harusnya kan BPPD selaras dengan pusat, yaitu BPNB," tegas pria yang juga wakil ketua Fraksi PKB ini.

Mahfudz sekali lagi akan sangat menyayangkan jika kemudian penanganan Covid-19 ini dimanfaatkan sebagai ajang pencitraan untuk Pilwali Surabaya mendatang. 

"Sangat disayangkan musibah kemanusiaan malah di jadikan ajang pencitraan bagi Kepala Bapekko Eri," imbuhnya.

Memang saat ini baliho serta poster Eri Cahyadi tersebar di sudut-sudut Kota Surabaya. Dia disebut digadang sebagai sosok wali kota oleh Risma. 

Fotonya berdampingan dengan politisi senior PDIP Armuji yang mengklaim sebagai calon wakil wali kota mendatang.

Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara dikonfirmasi perihal Eri yang diangkat sebagai ketua gugus ini tidak menjawab. Telpon serta pesan singkat sama sekali tak dia respon.